Batik Menjadi Perantara Mesranya Hubungan Indonesia & Thailand

Beberapa waktu lalu Batik Putra Bengawan menerima tamu istimewa, rombongan bapak-bapak & ibu-ibu dari Thailand berjumlah sekitar 15 orang. Pesawat yang mereka tumpangi sejatinya mendarat di New Yogyakarta International Airport karena Surakarta tidak memiliki bandara internasional sehingga mereka mengambil waktu lebih banyak di Yogyakarta yaitu 4 hari & 1 hari di Surakarta. Sabtu tanggal 22 Juni 2024, rombongan Thailand tiba di Batik Putra Bengawan dan melakukan Edu Wisata Batik, dimulai dari melihat koleksi-koleksi batik di Toko 1 & Toko 2 kemudian tour dilanjutkan melihat bangunan peninggalan saudagar batik Laweyan yang dijadikan Toko 2 & dibangun sejak tahun 1956. Lanjut, para rombongan bisa menyaksikan langsung proses pembuatan batik dari awal. Mulai dari konsep pembuatan motif, penentuan warna, klowong hingga pewarnaan. Para rombongan tidak bisa melihat proses melorod lilin panas karena prosesnya dilakukan di tempat yang berbeda.

Sebelum para rombongan tiba di Batik Putra Bengawan, beberapa perwakilannya telah melakukan survey awal di bulan maret untuk melakukan cek & ricek kelayakan kunjungan, selesai survey, perwakilan mengatakan akan datang kembali di bulan Juni/Juli, di bulan mei lalu, mereka melakukan konfirmasi dan akan datang di bulan juni tanggal 22. Setelah melakukan banyak diskusi terkait batik-batik Jawa khususnya Surakarta & Yogyakarta, saya menemukan sebuah titik ‘Kemesraan’ antara kami & para rombongan. Ternyata perantara batik, kita semua bertemu disini dan membicarakan antusiasme para rombongan & kami terhadap batik.

Saya sempat berbicara dengan pemimpin rombongan dan mengatakan, ‘Saya ingat sejarah ketika Raja Chulalongkorn atau Raja Rama V datang ke Jawa 3 kali di tahun 1871, 1896 & 1901, beliau adalah bapak modernisasi Siam dan mengubahnya menjadi ‘Thailand’. Seketika leader tersebut langsung merespon apa yang saya katakan, ‘Benar! Saya datang kesini setelah membaca buku A Royal Treasure: The Javanese Batik Collection of King Chulalongkron of Siam’, saya kaget! ‘Wow’, saya menimpali lagi, ‘Itu buku yang saya jadikan rujukan untuk membuat konten yang ini!’, lalu saya tunjukkan 2 konten yang pernah saya buat tentang batik-batik Raja Chulalongkorn yang dibawa dari Hindia-Belanda ketika itu dan saat ini disimpan di Museum Tekstil Queen Sirikit. Lanjut saya juga menjelaskan kedatangan Raja Bhumibol atau Raja Rama IX bersama sang istri Ratu Sirikit yang pernah datang ke Indonesia era Presiden Soekarno dan diberikan hadiah istimewa dari sang Presiden yaitu batik sirikit yang berasal dan dibuat Kebumen. Akhirnya saya bertanya untuk memastikan kembali sekaligus untuk mengambil kesimpulan, ‘Apakah anda melihat konten saya sebelum datang kesini?’, beliau menjawab, ‘Betul, saya sempat melihatnya di google tetapi karena disampaikan dengan bahasa Indonesia, saya tidak memahami konten yang dibawakan, tetapi saya melihat foto-foto Raja Rama V & Raja Rama XI dalam konten anda jadi saya sedikit memahami apa yang sebenarnya anda sampaikan’.

Frekuensi kita bertemu ketika membicarakan hal yang sama yaitu batik-batik Jawa yang dibawa oleh Raja Ram V atau Raja Chulalongkorn dari Hindia-Belanda ke Siam ketika itu. Kebetulan saya juga membuat dokumentasi konten untuk itu yang sudah saya posting di instagram & tiktok Batik Putra Bengawan. Sebuah momentum yang hangat, 2 bangsa bertemu karena batik di Batik Putra Bengawan.

Selain itu, saya merasakan kehangatan & etika orang-orang Thailand yang hadir. Mereka sangat sopan, istimewa pokoknya, setelah jamuan makanan ringan yaitu srabi Solo, mereka membuang sampah yang berserakan dan merapikan lokasi tempat mereka makan. Tak lupa mereka juga memborong banyak produk-produk batik dari Batik Putra Bengawan, padahal sebelumnya para rombongan juga membeli banyak batik dari Yogyakarta. Saya melihat seorang ibu memakai batik Truntum Yogyakarta yang dililitkan sebagai bawahan, saya menjelaskan padanya batik klasik Yogyakarta & Surakarta memiliki perbedaan motif, kemudian saya tunjukkan padanya batik Truntum Surakarta yang membentuk bintang, bukan bunga seperti Truntum Yogyakarta. Mereka sangat puas dengan kunjungan ini. Selain produk batik yang didapatkan, mereka mendapat banyak wawasan batik Surakarta dan sejarahnya yang kami jelaskan, dibantu translator yang mereka bawa dari Thailand.

Suatu hari nanti, kami ingin juga menelusuri sejarah batik Jawa di Thailand. Jika ada waktu & kesempatan, kami ingin mengunjungi Museum Tekstil Ratu Sirikit, tempat disimpannya batik-batik Jawa milik Raja Rama V. Terima kasih para rombongan dari Thailand, jumpa lagi di lain kesempatan. Lestari batik-batik Indonesia!

Article by Putra William Wiroatmojo, Batik Enthusiast.

Berikut spesifikasi batik :
Bahan: katun
Jenis batik: tulis
Ukuran: 2,4 x 1,15 meter
Harga: Rp 2.250.000,-

 

Tinggalkan Balasan

Email Anda tidak akan di publikasikan. Bidang yang ditandai * harus diisi

Open chat
1
Halo Mohon Info Untuk Batik Berkualitas dan Terbaik di Batik Putra Bengawan ??? Terima Kasih