Buah Pala, Genosida Banda & Batik Belanda

Salah satu pelajaran yang bisa kita tiru dari kolonial Belanda yang pernah menguasai tanah air ini adalah kemampuan dokumentasi tertulis, fotografi & ilustrasi. Ilustrasi yang penulis maksud disini adalah menuangkan seni di atas lembar kain yaitu membatik dengan merintangkan malam atau lilin panas di atas kain untuk membentuk sebuah motif batik. Orang Belanda memang ahlinya dokumentasi, berbagai foto dari tahun-tahun jadul pun masih tersimpan rapih di Universitas Leiden. Beberapa tekstil Indonesia termasuk batik juga disimpan baik di Tropenmuseum Amsterdam, catatan-catatan diary atau sejarah juga masih bisa kita temui dan disimpan oleh mereka, dan yang paling spektakuler adalah ilustrasi batik-batik mereka yang saat ini masih bisa kita lihat wujudnya di beberapa museum batik di Indonesia, salah duanya adalah Museum Batik Danar Hadi & Museum Batik Pekalongan. Kedua museum tersebut masih menyimpan batik fenomenal buatan ‘Mother of Batik Belanda’ yaitu Caroline Josephina von Franquemont, dijuluki Ibunya Batik Belanda oleh peneliti batik asal Belanda Sabine Bolk yang telah meneliti jati diri & karyanya selama kurun waktu 6 tahun.

Salah satu batik fenomenal yang menurut penulis spektakuler adalah ‘Batik Nutmeg’ atau ‘Batik Pala’ dengan hiasan tumpal untu walang sebagai sarung. Batik ini memiliki motif tanaman pala yang hanya tumbuh satu-satunya di Banda Naira, Maluku. Seakan-akan batik ini dibuat untuk menunjukkan tujuan & keperkasaan Belanda di masa lalu. Ketika menguasai lahan-lahan pala yang ada di Banda Naira dengan cara paksa, kepada generasi muda hari ini. Jika kita bedah lebih dalam lagi, ternyata ada 2 penliti asal Belanda yang tidak setuju dengan pengambil alihan lahan pala di Banda Naira oleh Belanda (VOC) yang dipimpin oleh Jan Pieterszoon Coen. Keduanya adalah Sabine Bolk yang mengatakan bahwa nama & patung-patung JP Coen harus dimusnahkan & Marjolein van Pagee yang menulis buku ‘Genosida Banda’, mengungkap kekejaman JP Coen di Banda Naira. JP Coen, melakukan genosida terhadap 15.000 penduduk Banda Naira dan menyisakan 600 saja, itupun sudah dibawa ke beberapa lokasi di Indonesia untuk dijadikan budak, begitu kejam & tidak manusiawinya VOC ketika ingin menguasai lahan pala demi meningkatkan omzet perusahaan VOC ketika itu. Sehingga JP Coen diakui sebagai pahlawan bagi negara Belanda, patung-patungnya masih berdiri tegak di beberapa sudut kota di Belanda.

Batik Nutmeg atau Batik Pala tersebut dibuat oleh Caroline von Franquemont, kenapa tanaman pala menjadi pilihan? Tentu saja untuk mendokumentasikan keperkasaan VOC di Indonesia dengan merebut paksa lahan pala, rempah yang paling mahal ketika itu di Eropa berfungsi sebagai penghangat tubuh & membantu mengatasi masalah pencernaan, sangat pas untuk meningkatkan aroma sup atau sebagai pelengkap bumbu steak. Rempah pala ini menjadi rempah pertama yang menjadi komoditas primadona VOC yang mampu memberikan keuntungan finansial yang tinggi ketika dijual die Eropa setelah pala, VOC mulai mencari rempah-rempah lainnya di beberapa lokasi di Indonesia.

Jadi tanaman pala adalah komoditas yang sangat penting bagi Belanda (VOC), rempah yang mampu mengubah nasib mereka dan memberikan petunjuk lain dimana rempah-rempah berharga lain yang harus mereka ambil dan bawa ke Eropa, sehingga mendokumentasikannya ke dalam sebuah batik adalah hal yang wajib supaya ada bukti atau rekam jejak yang bisa dipelajari untuk generasi selanjutnya nanti. Selain ‘Batik Pala’ atau ‘Batik Nutmeg’, ada juga yang mengilustrasikan perang sabil atau perang Jawa yang pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda setelah pihak Belanda mengelabuhi Pangeran Diponegoro, perang Jawa ini adalah perang yang paling merugikan Belanda karena Belanda mengalami kerugian sebanyak 20 Juta Gulden atau setara dengan Rp 150 Milyar & tewasnya 15.000 pasukannya. Rasa traumatis kepada Pangeran Diponegoro dituangkan ke dalam sebuah batik, yang penulis sudah temukan wujud batiknya ada 2, saat ini masih tersimpan di Museum Batik Danar Hadi. Sayangnya, ilustrasi batik Diponegoro tidak menggambarkan keadaan peperangan yang sebenarnya, motifnya lebih banyak didominasi serdau-serdadu Belanda & peralatan perangnya, tidak menggambarkan kondisi Perang Jawa yang sesungguhnya.

Article by Putra William Wiroatmojo

Keterangan: Wanita Pemetik Daun Teh di Perkebunan ‘Nederlandsch-Indisch Land Syndicaat’ (NILS), Simalungun 1925 Memakai Batik Perang Diponegoro. Sumber: NMVW
Keterangan foto kedua: Batik Perang Diponegoro Buatan Butik Indo-Belanda Koleksi Museum Batik Danar Hadi

Berikut spesifikasi batik:
Bahan: katun
Jenis batik: tulis
Ukuran: 2,4 x 115 cm
Harga: Rp 1.375.000,-

 

Tinggalkan Balasan

Email Anda tidak akan di publikasikan. Bidang yang ditandai * harus diisi

Open chat
1
Halo Mohon Info Untuk Batik Berkualitas dan Terbaik di Batik Putra Bengawan ??? Terima Kasih