Jika Ipar Adalah Maut Maka Truntum Adalah Obatnya

Apa yang dirasakan oleh Nisa, tokoh samaran yang diperankan oleh Michelle Zudith dalam film Ipar Adalah Maut, sejatinya pernah dirasakan oleh Kanjeng Ratu Kencana atau Ratu Beruk, permaisuri Susuhanan Pakubuwana III yaitu perasaan kehilangan cinta dari pasangannya. Cinta yang pernah bersemi dalam hati terasa semakin hilang semenjak datangnya orang lain dalam hati Susuhunan Pakubuwana III. Memang ada alasan kuat, kenapa Susuhunan Pakubuwana III tertarik untuk menikah lagi karena Kanjeng Ratu Kencana tidak bisa memberikan keturunan kepadanya sehingga tidak ada pilihan lain bagi Susuhunan Pakubuwana III untuk menikah lagi.

Hari demi hari berganti, perasaan hati Susuhunan Pakubuwono III semakin tak menentu, siapa yang akan melanjutkan singgasana jika nantinya beliau tidak memiliki keturunan dari Kanjeng Ratu Kencana? Tentunya jalan ceritanya berbeda bak langit dan bumi seperti yang dilalui oleh Mas Aris dalam film Ipar Adalah Maut. Orang ketiga yang hadir pun tidak seperti Rani yang notabene adalah adik kandung dari Nisa. Melihat kondisi ini, sebuah aktualisasi ekspresi dilakukan oleh Kanjeng Ratu Kencana. Hebatnya, wanita-wanita jaman dulu, selalu punya cara untuk mengekspresikan emosi perasaannya yaitu dengan membatik. Proses membatik tersebut dilakukan di malam hari, dalam sunyi sepi gelap malam, biasanya semua emosi perasaaan terkumpul di momen tersebut. Kanjeng Ratu Kencana tentunya sedang berpikir sesuatu yang sedang membuat hatinya gundah gulana, secara tak sengaja beliau melihat guguran bunga tanjung di halaman keputren istana. Meskipun suasana gelap, tetapi bunga tersebut masih terlihat cantik dan menawan apalagi ada sorot temaram cahaya lampu kombinasi bintang dari langit.

Hal tersebut memunculkan sebuah ide kombinasi antara keindahan guguran bunga tanjung, taburan bintang di gelapnya malam langit & perasan gundah gulana sehingga memicu sang permaisuri untuk mulai membuat motif batik yang kita kenal hari ini sebagai Batik Truntum, sebuah mahakarya spektakuler karya Kanjeng Ratu Beruk. Hasil kolaborasi antara guguran bunga tanjung, tebaran bintang malam & perasaan gundah gulana tak menentu. Batik truntum selalu memancarkan pesona gelap malam, dasaran hitam pekat dengan taburan bunga truntum. Jika Surakarta memiliki batik truntum yang cenderung seperti bintang dengan kelopak lancip, sedangkan Jogjakarta memiliki batik truntum yang cenderung seperti bunga dengan kelopak bulat.

Coba temen-temen batik mania bayangkan motif batik truntum Surakarta yang dibuat dengan cantik membentuk kelopak truntum yang lancip, betapa sulitnya membuat motif tersebut jika temen-temen batik mania tidak terbiasa membatik. Ketekunan & uletnya Kanjeng Ratu Kencana membuat motif batik Truntum tersebut membuat Susuhunan Pakubuwana III terpesona. Dalam batinnya berkata ‘Kok iso to dek sliramu buat beginian, kuwi kan angel!’, artinya, ‘Kok bisa dek, kamu membuat yang seperti itu, itu kan sulit!’. Hari demi hari berlalu, proses pembuatan batik truntum menuju kesempurnaan dengan pewarnaan latar gelap, ditaburi bunga truntum bak bintang yang terhampar di langit yang gelap, turut menumbuhkan cinta sang raja yaitu Susuhunan Pakubuwana III kembali. Oleh karena itulah, batik truntum menjadi simbol tumbuhnya cinta kembali sang raja terhadap permaisurinya, maka dari itu filosofi batik truntum sangat cocok digunakan bagi pasangan menikah dan digunakan ketika acara pernikahan untuk membangkitkan semangat cinta yang bersemi, istimewa bukan.

Mas Aris mungkin tertarik untuk menata hidup kembali dengan menerapkan filosofi batik truntum, tentunya harus memiliki batiknya dulu, beli batiknya pastikan di Batik Putra Bengawan ya Mas Aris. Meskipun mbak Nisa sudah bertekad bulat memutuskan untuk berpisah, namun kehidupan harus terus berlanjut Mas Aris, saatnya untuk memperbaiki hidup & menerapkan filosofi batik truntum dalam hidup anda. Semoga mbak Nisa juga memiliki kualitas hidup yang tertata & lebih berkualitas bersama Raya. Pesan untuk Rani, tidak ada salahnya untuk mulai membeli batik-batik truntum, dan menata kehidupan kembali, menuju kehidupan yang lebih baik lagi dengan pasangan sejati, menarik ya cerita Batik Truntum yang dikaitkan dengan kisah nyata Ipar Adalah Maut, semoga bisa menginspirasi seluruh keluarga bahagia di Indonesia untuk memiliki kehidupan yang bahagia tanpa adanya intervensi orang ketiga.

Article by Putra William Wiroatmojo, Batik Enthusiast.

Berikut spesifikasi batik :
Bahan: kombinasi
Jenis batik: tulis
Ukuran: S
Harga: Rp 600.000,-

Tinggalkan Balasan

Email Anda tidak akan di publikasikan. Bidang yang ditandai * harus diisi

Open chat
1
Halo Mohon Info Untuk Batik Berkualitas dan Terbaik di Batik Putra Bengawan ??? Terima Kasih