Masjid, Bekas Pura Tertua di Solo Ada di Laweyan, Sudah Pernah ke Sini?!

Salah satu peninggalan Ki Ageng Henis yang masih tersisa dan digunakan oleh masyarakat untuk aktivitas sehari-hari hari ini adalah Masjid Laweyan yang berada di dekat Sungai Kabanaran, Kampung Batik Laweyan. Masjid ini tampak tidak seperti masjid pada umumnya jika kita teliti melihat dari berbagai sisi, konon katanya Masjid Laweyan ini dibangun di tahun 1546 dan saat ini kondisinya sangat baik nan prima, karena telah melewati beberapa kali renovasi untuk mempertahanan fungsi dan bisa digunakan oleh masyarakat Laweyan.

Masjid ini tercatat sebagai masjid tertua di Solo, bahkan Masjid Gedhe Kraton Surakarta kalah tua dengan Masjid Laweyan yang erat hubungannya dengan Ki Ageng Henis. Secara penampilan, jika kita perhatikan secara detail dan seksama dengan mata telanjang, maka kita akan melihat sebuah arsitektur masjid yang tidak biasa, bentuknya meninggi berundak, memiliki tangga dan 3 pintu untuk masuk kedalamnya, tetapi masyarakat hanya bisa menggunakan 1 pintu yang berada di tengah yaitu pintu terbesarnya. Jika kita melihat 3 pintu terbuka untuk memasuki sebuah tempat, maka kita akan teringat pada bangunan Pura yaitu tempat ibadah orang Hindu. Memang pada awalnya sebelum diubah menjadi masjid, Masjid Laweyan adalah pura. Mayoritas penduduk Laweyan dulu kala adalah pemeluk agama Hindu dengan tokoh terkemuka yaitu Ki Ageng Beluk yang ikut memeluk agama Islam seperti masyarakat Laweyan pada umumnya. Setelah menerima dakwah dari Ki Ageng Henis. Dakwah Islam yang disampaikan Ki Ageng Henis sangatlah lembut & mengena di hati sanubari masayarakat Laweyan, salah satunya lewat sentuhan seni batik & membatik yang selanjutnya batik menjadi sendi kehidupan terpenting kehidupan bagi masyarakat Laweyan dan meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakatnya, dari berdagang tekstil & batik.

Penerimaan dakwah Ki Ageng Henis oleh masyarakat Laweyan turut mengubah wajah pura menjadi sebuah masjid yang digunakan tidak hanya untuk aktifitas peribadatan, tetapi juga tempat bermusyawarah, pernikahan dan sebagainya. Struktur masjid yang kita lihat hari ini adalah sebuah prakarsa dari Susuhunan Pakubuwana X yang populer sebagai raja Kasunanan Surakarta yang paling sukses di bidang pembangunan, memerintah pada masa 1850-1875. Atas prakarsanya, Masjid Laweyan bisa bertahan kokoh hingga saat ini dan kita bisa melihat peninggalan-peninggalan Susuhunan Pakubuwana X berupa mimbar dan beberapa peninggalan lain dengan tanda medali PB X.

Inilah salah satu dari sekian banyak keistimewaan Kampung Batik Laweyan. Selain pesona batiknya, para batik mania juga bisa menikmati sejarah awal terbentuknya Kerajaan Mataram Islam yang begitu perkasa di eranya, mengunjungi petilasan leluhur raja-raja Mataram Islam, melihat indahnya arsitektur masjid tertua di Solo yang dulunya Pura dan masih banyak lagi. Tertarik untuk berkunjung & berwisata di Kampung Batik Laweyan? Jangan lupa beli oleh-olehnya di Batik Putra Bengawan!

Article by Putra William Wiroatmojo, Batik Enthusiast.

Berikut spesifikasi batik :
Bahan: katun
Jenis batik: tulis
Ukuran: 2,4 x 1,15 meter
Harga: Rp 2.000.000,-

Tinggalkan Balasan

Email Anda tidak akan di publikasikan. Bidang yang ditandai * harus diisi

Open chat
1
Halo Mohon Info Untuk Batik Berkualitas dan Terbaik di Batik Putra Bengawan ??? Terima Kasih