Memahami Definisi Batik Secara Sejati Adalah Cara Menjaga Batik Dari Ancaman Batik Palsu

Kebayang nggak!? Jika suatu hari industri batik nasional di Indonesia digempur kain-kain tekstil dari Tiongkok yang dibuat melalui kolaborasi teknologi dan menyerupai motif-motif batik kita, dijual dengan harga murah lagi? Lalu, bagaimana nasib industri batik nasional jika masyarakat awam tentang hal ini tidak memahami definisi batik secara sejati, lantas terbawa arus modernisasi kain tekstil yang harganya sangat jauh dibawah harga batik-batik sejati? Tentu ini sebuah hal yang pernah dialami oleh industri batik nasional di tahun 1970. Ketika industri tekstil semakin maju dengan dukungan alat-alat canggih nan modern, berhasil menciptakan kain-kain yang menyerupai motif batik-batik kebanggaan kita, dijual dengan harga yang berlipat-lipat lebih terjangkau dari batik-batik yang dibuat melalui proses yang sejati. Banyak sekali pabrik-pabrik batik yang putus asa menghadapi gempuran ini terutama di Laweyan, bisa dihitung saat ini pabrik batik yang masih bertahan mayoritas sudah beralih fokus dari produsen ke toko retail saja, suplai batik didapatkan dari kampung-kampung batik di beberapa daerah di Klaten atau Sragen.

Tentu saja ini sebuah masalah, masalah yang remeh tetapi jika peremehan ini dilakukan oleh setengah penduduk Indonesia maka, industri batik nasional semakin terancam. Masalah kedua yang datang adalah banyaknya masyarakat awam yang menganggap semua kain-kain bermotif batik adalah batik, padahal tidak semua kain bermotif batik itu disebut dengan batik. Ada yang namanya batik tidak sejati, batik yang dibuat melalui proses yang modern, hasil kolaborasi teknologi seperti gambaran di atas tadi. Dampaknya adalah batik jenis tersebut akan semakin laris dan menutup kemungkinan peningkatan produktivitas industri batik nasional, omzet menurun, pabrik batik tidak sanggup membayar gaji SDM batik yang ada di dalamnya, profesi membatik semakin ditinggalkan anak-anak muda sebagai generasi penerus, dan tinggal menunggu saatnya gulung tikar.

Salah satu cara untuk mengatasi masalah-masalah yang mengancam industri batik nasional adalah dengan cara memahamkan masyarakat dengan sosialisasi edukasi batik, bisa melalui workshop pemahaman definisi batik sejati yang dijabarkan oleh Unesco atau memperbanyak konten-konten digital, foto, video maupun tulisan tentang definisi batik sejati dari Unesco. Tentu saja misi ini tidak mudah. Banyak sekali tantangannya, dengan harapan masyarakat memahami batik-batik mana saja yang layak untuk dibeli demi meningkatkan produktivitas industri batik nasional.

Apakah membeli batik palsu tidak diperbolehkan? Boleh saja, tetapi kecenderungannya lebih baik diarahkan pada batik-batik yang sejati, batik yang dibuat melalui proses perintangan warna menggunakan lilin panas atau malam untuk membentuk sebuah motif tertentu (Definisi Batik dari Unesco). Jika harga batik-batik sejati dirasakan terlalu mewah untuk dibeli maka ada solusinya yaitu membeli batik-batik selain batik tulis yang masih masuk dalam kategori batik sejati, antara lain:
– Batik Cap
– Batik Kombinasi Tulis
– Batik Kombinasi Cap
– Batik Coletan

Tanpa mengurangi rasa hormat, ada satu batik lagi di bawah kasta batik coletan yang tidak layak untuk disebut sebagai batik yaitu batik printing atau batik palsu. Kain yang dicetak dengan motif menyerupai batik melalui teknologi modern bisa disablon atau di printing komputerisasi, cara ini menyalahi aturan pembuatan batik yang sejati dan ketika masyarakat membeli batik printing maka, kontribusi mereka tidak akan sampai kepada para pembatik dan semua sumber daya manusia yang hidup dari batik, semoga tercerahkan!

Article by Putra William Wiroatmojo

Berikut spesifikasi batik:
Bahan: katun
Jenis batik: tulis
Ukuran: 2,4 x 1,15 meter
Harga: Rp 1.250.000,-

Tinggalkan Balasan

Email Anda tidak akan di publikasikan. Bidang yang ditandai * harus diisi

Open chat
1
Halo Mohon Info Untuk Batik Berkualitas dan Terbaik di Batik Putra Bengawan ??? Terima Kasih