Pengorbanan Seorang Sultan Agung Hanyakrakusuma: Sang Ksatria Sekaligus Brahmana Kreator Batik Parang Barong

Hari raya Idul Adha yang erat kaitannya dengan ‘Pengorbanan’ tentu saja memiliki sebuah makna mendalam bagi raja-raja Mataram, salah satunya raja Mataram ke-3 yaitu Panembahan Hanyakrakusuma atau yang populer dengan sebutan Sultan Agung, putra dari Prabu Hanyakrawati & Ratu Dyah Banowati yang memilik jalur silsilah dari Raja Majapahit yaitu Brawijaya V. Filmnya pernah dirilis tahun 2018 dengan sutradara Hanung Bramantyo, dibintangi oleh Ario Bayu sebagai Sultan Agung dewasa ketika mengambil alih tahta ayahnya Prabu Hanyakrawati. Memang, sebuah film tidak mendasari sebuah fakta sejarah yang disajikan, tetapi film ini cukup mewakili betapa besarnya pengorbanan seorang raja yang harus menyingkirkan masa kecil yang seharusnya penuh warna, kesenangan & kegembiraan, menggantinya dengan kesungguhan, keseriusan & ketekunan menimba ilmu di sebuah padepokan atau pondok yang dipimpin oleh guru spiritualnya yaitu Ki Jejer. Pengaruh Ki Jejer besar sekali bagi Sultan Agung Hanyakrakusuma karena sejak 10 tahun dalam film tersebut diceritakan, Sultan Agung ‘Diasingkan’ dari wilayah kerajaan, demi menimba ilmu keagamaan, fisik & sebagainya di Padepokan Ki Jejer. Maka tidak heran jika Sultan Agung Hanyakrakusuma dijuluki sang ksatria brahmana karena ketika berusia 20 tahun, kematangan ilmu agama & kecakapannya memimpin sebuah kerajaan, terbukti dahsyat seketika mengambil alih tahta dari ayahnya Prabu Hanyakrawati.

Tak sedikit hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan, dicetuskan ketika masa kejayaannya memimpin Mataram, beberapa hal tersebut antara lain:
• Grebeg yaitu peringatan yang digelar oleh masyarakat Jawa untuk memperingati sesuatu ditetapkan oleh Sultan Agung sesuai pada hari raya Idul Fitri & kelahiran Nabi Muhammad SAW. Seperti grebeg puasa & grebeg maulud.
• Mencetusan penggabungan kalender saka & hijriah (Hindu & Islam) agar peringatan-peringatan kedua agama bisa digelar secara bersamaan, sebuah prinsip harmoni kebersamaan dalam perbedaan.
• Mengubah sistem penanggalan dari penghitungan matahari (Syamsyiah) ke bulan (Qomariyah)
• Menambahkan konsonan ‘O’ dalam bahasa jawa, karena beliau menyukai bahasa arab, beliau kagum dengan huruf hijaiyah ‘Ro’, ‘Tho’, ‘Dhlo’, ‘Gho’, ‘Qo’, dan lain sebagainya menjadikan huruf vokal pada gelarnya Hanyakrakusuma menjadi Hanyokrokusumo, dan lain sebagainya.

Hal-hal itulah yang membuatnya dianugrahi dengan gelar ‘Susuhunan’ atau ‘Sunan’ yang sejatinya hanya diberikan kepada Wali Songo saja. Inilah kenapa Sultan Agung Hanyakrakusuma ditetapkan sebagai Raja Mataram ke-3 dengan 2 kasta klasifikasi yang ditetapkan oleh Wali Songo yaitu Ksatria & Brahmana, seorang pemimpin pemberani, bijak & cerdas, tetapi juga memiliki wawasan keagamaan tinggi yang mampu menciptakan harmoni diantara para pemeluk agama yang ada di era kepemimpinannya waktu itu, istimewa!

Filosofi keagamaan juga diterapkan pada penciptaan batik parang barong, salah satu peninggalan terbesar Sultan Agung Hanyakrakusuma. Batik Parang barong menjadi motif pengembangan dari parang ciptaan kakeknya yaitu Panembahan Senopati, motif ini bisa dibilang paling populer, paling disegani & paling istimewa diantara motif-motif batik lainnya, lantaran ukuran & makna filosofinya yang sangat istimewa.

Motif Batik Parang tidak terputus, menyerupai huruf s, seperti ombak yang menabrak karang, tercipta secara alamiah dengan filosofi ‘Tidak semua apa yang terjadi di bumi bisa dikendalikan oleh manusia. Melainkan semua atas Kuasa & Kehendak Allah Yang Maha Esa’ istimewa sekali, filosofi yang dalam tersemat pada batik parang yang hanya boleh dipakai oleh raja, terutama parang barong, parang terbesar secara ukuran.

Cerita ini bersimpul pada sebuah teori bahwa pengorbanan yang tulus dengan berbagai aspek elemen yang ada di dalamnya termasuk usaha, doa, semangat, pengabdian dan lain sebagainya mampu menciptakan sebuah keistimewaan yang menimbulkan manfaat bagi kehidupan orang banyak. Seperti pengorbanan seorang raja Matarama ke-3, sang ksatria sekaligus brahmana yaitu Sultan Agung Hanyakrakusuma, salah satu raja Mataram yang tidak tunduk pada VOC, tercatat pernah menyerang VOC pimpinan Jan Pieterszoon Coen di Batavia sebanyak 2 kali. Terima kasih Sultan Agung Hanyakrakusuma, pengorbanan & perjuanganmu akan selalu dikenang & menjadi inspirasi oleh anak-anak muda masa kini!

Referensi:
• Sultan Agung: Tahta, Perjuangan & Cinta | Film by Hanung Bramantyo
• Salim Fillah: Kajian Ahad Pagi Karanganyar | Youtube
• https://kebudayaan.jogjakota.go.id/

Article by Putra William Wiroatmojo, Batik Enthusiast.

Berikut spesifikasi batik :
Bahan: katun
Jenis batik: tulis
Ukuran: 2,4 x 1,15 meter
Harga: Rp 1.500.000,-

Tinggalkan Balasan

Email Anda tidak akan di publikasikan. Bidang yang ditandai * harus diisi

Open chat
1
Halo Mohon Info Untuk Batik Berkualitas dan Terbaik di Batik Putra Bengawan ??? Terima Kasih